Saturday, 4 February 2017

Mungkin Allah Tidak Suka Ketaatan-Mu

Bissmillah
Assalamualaikum,

Tatkala muncul
Rasa berat beribadah
Yang aku khawatirkan
Ternyata Allah tidak suka
Ketaatan dan ibadah-ku

Yang paling aku takutkan
Aku berpaling
Maka Allah memalingkan hidayah itu
Untuk selamanya

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺯَﺍﻏُﻮﺍ ﺃَﺯَﺍﻍَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻗُﻠُﻮﺑَﻬُﻢْ

“Maka tatkala mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka (Ash-Shaff: 5)

Telah jelas bagi-ku
Hujjah dan keutamaannya
Tapi aku masih  saja
Malas dan enggan menjemput hidayah

Agar semangat itu kembali
Berkumpul dengan sahabat shalih
Membaca beberapa ayat Al-Quran
Muhasabah menyendiri dalam waktu mustajab
Menghadiri majelis ilmu
Ziarah kubur ingat kematian

Mengunjungi orang sakit
Mengusap kepala anak yatim
Bersedekah di lingkungan miskin
Dengar dan lihat kesederhanaan mereka
Senantiasa engkau bersyukur dan bahagia

Semoga Allah
Mengembalikan  semangat
Menghidupkan hati dan melembutkannya
Memudahkan kita
Beribadah dan berbuat manfaat kebaikan

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻋِﻨِّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺫِﻛْﺮِﻙَ ﻭَﺷُﻜْﺮِﻙَ ﻭَﺣُﺴْﻦِ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻚَ

(Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika)

“Ya Allah Aku meminta bantuan kepada-Mu agar senantiasa bisa berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu”. (HR. Abu Dawud)

@Antara langit dan bumi Allah
Pesawat Lombok-Yogyakarta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Tuesday, 15 November 2016

Memaafkannya, Mungkinkah?

123RF.com


Jika salah, mintalah maaf. Jika ada yang buat salah pada kita, terimalah permintaan maafnya.

Mudah Raih Rumah Di Surga
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Bisa Memaafkan Itu Bagian Akhlak Mulia
Kalau kita menelusuri kitab Riyadhus Sholihin, setelah Imam Nawawi menyebutkan bab “Husnul Khuluq” yaitu berbudi pekerti yang baik, lantas beliau menyebutkan bab “Al-Hilm wal Aanah war Rifq” yaitu santun dan lemah lembut. Ini dalil Al-Qur’an yang beliau maksudkan dalam bab tersebut agar kita sebagai seorang muslim dapat memiliki sifat santun dan lemah lembut. Inilah yang menunjukkan akhlak mulia.
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43)
Kalau kita melihat kandungan ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa termasuk akhlak mulia yaitu:
1. Menahan amarah.
2. Memaafkan kesalahan orang.
3. Mengerjakan yang ma’ruf.
4. Berpaling dari orang yang bodoh.
5. Membalas kejelekan dengan kebaikan.

Bagi yang Berbuat Salah
Ada dua pihak yang terlibat dalam pertikaian: (1) yang berbuat salah, (2) yang dizalimi
Yang berbuat salah tentu saja punya kewajiban meminta maaf. Meminta maafnya bukan tunggu moment tertentu, bukan tunggu nanti pas Syawalan atau Halal bi Halal. Setiap tindakan jelek mesti diselesaikan sesegera mungkin. Kapan? Yah, pas buat salah langsung meminta maaf.
Jangan jadi orang yang pura-pura tidak berbuat salah.
Contohnya saja jangan jadi orang yang pura-pura melupakan utang.
Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di dalam shalat: Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak hutang).” Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari hutang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 589).
Jadi kalau buat salah, akui kesalahan dan mintalah maaf.
Coba perhatikan cara-cara meminta maaf:
Bersungguh-sungguh
Jangan mencoba untuk melupakan kesalahan dengan sebuah alasan atau permohonan maaf yang lemah. hanya akan menjadikan kesalahan semakin buruk.
Jadi, jangan katakan “Itu bukan hal yang besar,” “Saya tidak bermaksud melakukannya,” atau “Anda terlalu berlebihan”. Sebaliknya, katakanlah “Saya telah membuat kesalahan besar,” “Seharusnya saya tidak melakukannya,” atau “Saya seharusnya tahu mana yang benar.”
Akui kesalahan yang sebenarnya dengan mengemukakan alasan
Sebuah permintaan maaf yang baik mengungkapkan masalah yang maksud dengan menggunakan kata “karena”.
Jadi jangan katakan “Maaf, saya lupa janji utang kemarin.”
Sebaliknya, katakanlah “Maaf, saya lupa janji utang kemarin karena memang saya sebenarnya malu belum punya uang untuk melunasi.”
Jangan bilang “tetapi”
Satu kata itu dapat merusak permohonan maaf Anda. Itu adalah sebuah cara untuk menutupi kesalahan.
Tidak baik mengatakan, “Maaf saya lupa utang tersebut dilunasi kemarin, tetapi Anda seharusnya mengingatkan saya.”
Bertekad tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa akan datang

Bagi yang Disakiti (Dizalimi)
Bagi yang dizalimi yang bisa dilakukan adalah:
1. Menahan amarah (hilm atau lemah lembut) dan sabar (sadar itu musibah dan ujian).
2. Memaafkan kesalahan orang lain.
3. Membalas kejelekan dengan kebaikan.

Menahan amarah atau hilm
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan jika ada dalam sesuatu, maka akan membuat sesuatu menjadi indah. Namun jika kelembutan itu lepas, maka akan membuat sesuatu jadi jelek.” (HR. Muslim, no. 2594)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِى الْمَسْجِدِ ، فَثَارَ إِلَيْهِ النَّاسُ لِيَقَعُوا بِهِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « دَعُوهُ ، وَأَهْرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ – أَوْ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ – فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ »
“Ada seorang Arab Badui kencing di masjid. Orang-orang kemudian marah ingin memukulnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu malah mengatakan, “Biarkan dia. Siramkan saja pada kencingnya seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk dipermudah, bukan untuk mempersulit.”  (HR. Bukhari, no. 220, 6128)

Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan,
مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ خَادِمًا إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَىْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلاَّ أَنْ يُنْتَهَكَ شَىْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya. Ia juga tidak pernag memukul istri-istrinya dan hamba sahayanya. Kecuali, apabila beliau berjihad di jalan Allah. Dan ketika beliau disakiti, beliau sama sekali tidak pernah membalas orang yang menyakitinya, kecuali bila apa yang telah diharamkan Allah Ta’ala itu dilanggar; maka beliau membalas karena Allah Ta’ala.” (HR. Muslim, no. 2328)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,
كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَحْكِى نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ ، وَهْوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ ، وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ »
“Seolah-olah aku masih dapat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menceritakan seorang nabi dari para nabi, yaitu ketika nabi tersebut dipukul oleh kaumnya hingga menyebabkan keluar darahnya dan nabi itu mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdo’a, “Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka itu tidak mengetahui.” (HR. Bukhari, no. 3477; Muslim, 1792)

Membalas Kejelekan dengan Kebaikan
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كُنْتُ أَمْشِى مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِىٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِىٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً ، حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ، ثُمَّ قَالَ مُرْ لِى مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِى عِنْدَكَ . فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ ، فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ
“Saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengenakan baju buatan negeri Najran yang kasar tepinya. Lalu ada seorang Arab Badui yang menemuinya, kemudian ia menarik-narik selendang beliau dengan kuat. Saya melihat leher beliau terdapat bekas ujung baju karena kerasnya tarikan orang Badui itu. Kemudian ia berkata, “Wahai Muhammad berilah kepadaku harta Allah yang ada padamu.” Beliau menoleh kepada orang Badui itu. Sambil tersenyum, beliau menyuruh untuk memenuhi permintaan orang Badui itu.” (HR. Bukhari, 3149; Muslim, no. 1057)
Semoga bermanfaat.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Rumaysho.Com

Menggandakan Uang, Biar Cepat Kaya



Bagaimanakah cara menggandakan uang, biar cepat kaya?

Khutbah Pertama

الحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِيْنُ بِهِ، وَنَسْتَرْشِدُهُ، وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُرْشِداً
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، إِقْرَاراً بِرُبُوْبِيَّتِهِ، وَإِرْغَاماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ، سَيِّدُ الخَلْقِ وَالبَشَرِ
اللّهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَعَلَى ذُرِّيَتِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ، أَوْ سَمِعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرٍ، وَارْضَ عَنَّا وَعَنْهُمْ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ القَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، وَأَدْخَلْنَا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah …

Kita memuji Allah dengan segala pujian yang sempurna. Allah yang telah memberikan berbagai macam nikmat. Kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat yang ada.

Lihatlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung Nabi Ibrahim karena ia mau bersyukur,
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلَّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . شَاكِراً لَأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah (syirik), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl: 120-121)

Rasa syukur tentu diwujudkan dengan takwa dan ibadah pada Allah. Dan ingatlah, yang membedakan kita satu dan lainnya hanyalah takwa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan khutbah pada musim haji,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى ، أَبَلَّغْتُ ؟ ) قَالُوا : بَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb kalian itu satu, bapak kalian pun satu. Bukanlah orang Arab itu lebih mulia dari non-Arab. Bukan pula non-Arab yang lebih mulia dibandingkan orang Arab. Bukanlah pula orang berkulit merah lebih mulia daripada kulit hitam, atau sebaliknya. Yang jadi patokan seseorang itu mulia adalah takwa. Bukankah aku telah menyampaikan?” Para sahabat pun menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikannya.” (HR. Ahmad, 5: 411. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, kepada suri tauladan, kepada yang mengajarkan ajaran-ajaran tauhid pada kita semua, Nabi agung dan mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ingatlah, tanpa shalawat pada Nabi, doa kita menjadi tertahan.

‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَىْءٌ حَتَّى تُصَلِّىَ عَلَى نَبِيِّكَ -صلى الله عليه وسلم-
“Sesungguhnya doa itu diam antara langit dan bumi, tidak naik ke atas hingga engkau bershalawat pada Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi, no. 486. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan).

Walau kita sudah mengetahui bahwa yang membedakan kita dan lainnya, bukanlah harta namun ketakwaan. Tetap mencari harta jadi suatu lomba bagi kita-kita saat ini. Bahkan kita akan korbankan segalanya, akan korbankan waktu pula, untuk memenuhi tabungan harta yang kita miliki.
Itulah yang Nabi kita sangat khawatirkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukanlah khawatir kita menjadi miskin. Yang beliau khawatirkan adalah kita terus berlomba untuk berbangga dengan harta.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَخْشَى عَلَيْكُمُ الْفَقْرَ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ التَّكَاثُرَ
“Yang aku khawatirkan pada kalian bukanlah kemiskinan, namun yang kukhawatirkan adalah saling berbangganya kalian (dengan harta).” (HR. Ahmad 2: 308. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Sifat manusia yang ‘takatsur’ yang saling berlomba untuk bermegah-megahan dalam dunia disebutkan pula dalam ayat,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (1)
sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2)
(QS. At Takatsur: 1-2)

Di zaman ini, berbagai jalan untuk cepat kaya pun ditempuh …

Pertama, ada yang mencari dengan jalan berutang (memperbanyak kredit)

Ada yang tujuannya bukan ingin memenuhi kebutuhan pokoknya, namun sekedar menambah motor, menambah mobil, menambah handphone. Padahal kredit di zaman ini tak lepas dari penggandaan utang, alias dikenai riba. Kenyataan  yang terjadi, utang yang kecil lama kelamaan bisa beranak menjadi sepuluh kali lipatnya.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah, no. 2414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1078; Ibnu Majah, no. 2413. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Al –‘Iroqiy mengatakan, “Urusannya masih menggantung, artinya tidak bisa kita katakan ia selamat ataukah sengsara sampai dilihat uhtangnya tersebut lunas ataukah tidak.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4: 184)

Kedua, cari kesempatan korupsi

Korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Dari korupsi inilah terjadi penggelapan dana dan uang. Padahal seorang muslim dituntut untuk amanat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
“Tunaikanlah amanat pada orang yang memberikan amanat padamu dan janganlah mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Daud no. 3535, Tirmidzi no. 1264 dann Ahmad 3: 414, shahih).

Pegawai yang disebut amanat berarti yang memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagai pegawai. Di antara tanda pegawai yang amanat terhadap kewajibannya:
Jika telah ada ketetapan waktu awal dan akhir kerja, maka ia harus memenuhi aturan tersebut. Tidak boleh seorang pegawai telat datang kerja dan lebih awal pulang atau ketika jam kerja malah berada di pusat perbelanjaan.
Tidak memanipulasi sisa uang perjalanan dinas. Beberapa pegawai ada yang sengaja memanipulasi laporang keuangan perjalanan dinas dan mengambilnya untuk masuk ke kantongnya sendiri.
Tidak menerima suap dan segala bentuk gratifikasi. Dalam hadits disebutkan, “Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad 5: 424, shahih).

Ketiga, menggandakan uang

Menggandakan uang seperti yang lagi santer saat ini adalah dari “Dimas Kanjeng Taat Pribadi”. Secara logika saja, uang yang dicetak oleh Perum Peruri lalu beredar di tengah masyarakat jumlahnya terbatas. Lalu bagaimana bisa uang yang dikeluarkan Dimas Kanjeng begitu banyak hingga ratusan milyar rupiah?
Ada dua kemungkinan, pertama ia menipu orang banyak karena banyak yang menanam mahar padanya ketika itu. Ini termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Disebutkan dalam ayat,
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Juga kemungkinan di situ dengan menggunakan bantuan jin (tuyul) untuk mengumpulkan uang. Jin dan tuyul ingin melayani jika kita melakukan syirik.

Kemungkinan yang kedua, itu adalah sihir. Kita mau sebut mukjizat seperti memindahkan istana di zaman Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tidak bisa karena Dimas Kanjeng bukanlah Nabi. Kita mau sebut karamah seperti para wali pun tidak bisa karena karamah itu dari para wali yang taat, sedangkan Dimas Kanjeng membuat ajaran yang mengada-ngada seperti menyariatkan shalawat fulus dan mengajarkan akidah Wihdatul Wujud seperti yang diajarkan dahulu oleh Syekh Siti Jenar, sebelumnya ada yang bernama Ibnu ‘Arabi (bukan Ibnul ‘Arabi).
Bacaan dzikir yang ditemukan di padepokan Dimas Kanjeng: sirrullah, dzatullah, sifatullah, wujudullah, ya ingsun sejatining Allah, wujud ingsun dzat Allah huakbar huakbar huakbar huallahuakbar Allahu Allah.
Kalau mukjizat bukan, kalau karamah bukan, berarti kemungkinan yang ketiga, itu adalah ilmu sihir. Kalau sihir bisa dipelajari, sedangkan mukjizat dan karamah itu datang dengan kuasa Allah.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah …
Demikian khutbah pertama ini.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah …

Ketahuilah Islam itu sudah mengajarkan cara-cara untuk membuka pintu rezeki:
Memperbanyak istighfar
Menjalin silaturahim
Memperbanyak sedekah dengan ikhlas cari ridha Allah
Memperbanyak doa minta rezeki
Namun kuncinya sebenarnya pada iman dan takwa.

Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Di akhir khutbah ini …
Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Shalawat kita di mana pun tetap akan sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَاناً لاَ يَرْتَدُّ وَنَعِيماً لاَ يَنْفَدُ وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- فِى أَعَلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jenderal Sudirman, Panggang, Gunungkidul
Jumat Pahing, 12 Muharram 1438 H (bertepatan dengan 14 Oktober 2016)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal


Sumber : https://rumaysho.com/

Hukum Mempelajari Ilmu Filsafat


Bagaimana hukum mempelajari ilmu filsafat?

Kata Ibnu Nujaim yang punya kitab Al-Asybah An-Nazhair yang terkenal:
تعلم العلم يكون فرض عين , وهو بقدر ما يحتاج إليه لدينه . وفرض كفاية , وهو ما زاد عليه لنفع غيره . ومندوبا , وهو التبحر في الفقه وعلم القلب . وحراما , وهو علم الفلسفة والشعبذة والتنجيم والرمل وعلم الطبيعيين والسحر
“Ilmu itu ada yang fardhu ain yang dibutuhkan untuk menyokong agama seseorang.
Ada juga ilmu yang fardhu kifayah yang dibutuhkan sebagai tambahan sehingga dapat memberi manfaat pada yang lainnya.
Ada juga ilmu yang dianggap sunnah yaitu memperluas dalam mempelajari fikih dan menata hati.
Adapun ilmu yang haram dipelajari adalah ilmu filsafat, sulap, perbintangan, ramalan, ilmu supra natural dan sihir.”
الاشباه والنظائر مع شرحها: غمز عيون البصائر للحموي” (4/125)

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel RemajaIslam.Com

Tuesday, 20 September 2016

30 Orang Pertama Dalam Islam

Jika Ditanya Siapa Org pertama menemukan telepon ? Maka Semua Dapat Menjawab nya :
Alexander Graham Bell ..

Nah...kalau ditanya siapa orang yang pertama tulis bismillah siapa ?
Kasihan kalau anak- anak kita tanya kepada Ibu/Bapak...bisa jawab enggak ?
Simpan catatan ini ya. Mari kita kenali Islam !
Ayo SHARE lagi :)
--------------------

Pemuda Ingin Sukses Berwirausaha
































Terima Kasih Semoga Bermanfaat

Tuesday, 13 September 2016

Mengapa Kita Harus Menjauhi Prasangka ?

 Setelah sekian lama gak Update blog, akhirnya hari ini bisa update, karena sebelumnya masih sibuk urusan KKN semester akhir 😂.


coba belajar pura2 jadi penulis 😄
pernah gak sih teman2 berprasangka ?
untuk soal prasangka yg pertama ada kutipan yg tulisannya :
" _tindakan anda di batasi pikiran anda_ "
kenapa begitu?, pikiranlah yang melahirkan prasangka.
saat prasangka itu baik semua akan menjadi indah.
saat prasangka itu buruk kita masih belum tau apa yang akan terjadi.
kembali kemaksud kutipan di atas. kenapa pikiran bisa membatasi tindakan kita ?
Begini, seandainya ada teman mengajak kita untuk berkunjung ke rumah teman di luar kota di siang itu langsung berangkat naik sepeda motor.
Apa jawaban Anda ?
Pikiran Anda Membatasi Tindakan Anda,
Saat Itu Anda Mulai Berpikir ( " saya gk kenal sama temennya itu....., ke rumah temennya ngapain?...., rumah temennya jauh...., jalanan macet panas lagi... bla ... bla bla ")
Jadi Sekali lagi Apa keputusan Anda ?
Apakah Anda Setuju Atau Menolak Ajakan Teman Anda.
Semua Jawaban Tergantung Anda, Pikiran Anda yang membatasi tindakan Anda.. 😊

Continues...
Bagaimana prasangka selanjutnya ?

_positif thingking tak selalu benar_
Bagaimana bisa positif thinking tak selalu benar, karena semua tidak semua hal kita bisa berprasangka baik atau secara positif.
Seandai nya Anda tiba-tiba di datangi orang tak di kenal ke rumah Anda, lalu Anda di tawari sebuah investasi yang begitu wah, berlipat-lipat keuntungan, lalu Anda percaya begitu saja, Anda memberikan investasi sebesar 200jt, beberapa bulan kemudian Anda mencoba menghubunginya tetapi tidak bisa. Anda datangi Kantornya Selalu Tutup, Tapi Anda masih berpikir positif mungkin dia sibuk mengolah keuangan Anda...
Di bulan-bulan selanjutnya Anda masih saja tidak bisa berkomunikasi dengan Orang yang menawarkan Investasi tersebut,
Apakah Positif Thinking Selalu benar? Yang benar kita harus mawas diri dan berjaga2. 😊
Terima Kasih
@KatanyaDayat #katanyadayat

Thursday, 21 July 2016

Memaafkan, Bukankah Allah Maha Pengampun ?

forgiven-memaafkan
Forgiveness Tumblr.com
Setelah sekilan lama nggak ada update posting di blog Karena kesibukn kuliah dan tugas2nya, akhirnya gue bisa posting lagi hari ini tanggal 21 juli 2016.

Siapa dari kita yang nggak pernah ngelakuin kesalahan ?
Manusia emang tempatnya kesalahan bersemayam, melakukan kesalahan, kekhilafan, dan lain2. Kesalahn juga punya tingkat kualitas dan kuantitasnya, kualitas artinya kadar atau berat suatu kesalahan itu sendiri. Sedangkan kuantitas menyangkut pada banyak atau seringnya kita sering membuat kesalahan dan bagaimana kita menyelesaikan.

Bahkan Allah  Berfirman, ciri-ciri orang bertaqwa adalah memaafkan kesalahan orang lain. Meski dalam prakteknya memaafkan itu berat untuk di lakukan dan bukan perkara yang mudah.
Ada kisah Abu Bakar As-Shiddiq yang pada suatu hari bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah bin Atsatsah, salah seorang kerabatnya sendiri tidak di maafkan ?

Begitu berat kenyataan itu bagi belau karena  Misthah bin Atsatsah telah ikut menyebarkan berita bohong tentang putri beliau yaitu Siti Aisyah. Tetapi Allah Yang Maha Rahman melarang sikap Abu Bakar tersebut, sehingga turunlah ayat ke-22 dari surah An-Nur.

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaknya mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin agar Allah mengampuni mu? Sesungguhnya,Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Menyayangi.” (QS An-Nur : 22 )

Lihat, Allah saja mengampuni dosa-dosakita meski kita melakukannya berulang kali dan terus menerus, apakah kita kita sebagai manusia tidak mau memaafkan kesalahan orang lain , kerabat, saudara dan teman-teman kita sendiri, sedangkan Allah Maha Pengampun ?
Dari situ, akhirnya dan seharusnya kita sadar apa yang kita lakukan itu harus saling memaafkan dan membantu.
Dari itu juga, gue minta maaf atas segala kesalahan gue baik sengaja maupun enggak sengaja, baik tulisan maupun lisan dan perbuatan, dayat mengucapkan Minal Aizin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Terima Kasih, Semoga Bermanfaat

Bersambung... (Episode04)

Monday, 13 June 2016

Membaca Untuk Mendapatkan Banyak Ilmu

Bissmillah,
Assalamualaikum,
                Pagi senin, jam 10.30 tanggal 13 juni 2016, hari ini aku mau share motivasi baru setelah membaca. Yaps ! membaca itu penting, penting banget, karena dengan membaca kita menambah ilmu. Membaca termasuk menuntut ilmu, karena menuntut ilmu itu hukumnya wajib kan ?

                Kenapa kita harus membaca, karena membaca lebih baik dari pada menulis. Seperti kesibukan ku hari ini sebelumnya adalah membaca, tapi sayang yang di baca bukan buku sekolah. Eh iya belum semua biodata ku ke tulis di artikel ini atau sebelumnya. Baik . aku lahir di Kota Rengat Kabupaten Indrgiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia. Tapi sekarang aku sedang melanjutkan studi kuliah di Surabaya, tepatnya  Sekolah Tinggi Teknik Jurusan Informatika. Sekarang aku semester 6, aku masuk kuliah sejak september 2013 dari lulus SMA, aku langsung masuk kuliah. Baik itu dulu perkenalannya, kita lanjut ke pembahasan dan perjalanan cerita sebenarnya.
Membaca Untuk Mendapatkan Banyak Ilmu
Nothing Like Man With a Book From www.pinterest.com

                Membaca, yaps, membaca, baca, di baca, bacalah, IQRO’ . Bahkan Wahyu pertama Nabi Muhammad SAW adalah (“membaca atau Bacalah”). Kenapa  membaca itu penting ?
Baca kutipan ini : “ Seorang menulis karena banyak membaca”. Jadi, setelah kita membaca kita di akan banyak menulis. Kenapa harus menulis ? Baca kutipan ini “Ikatlah Ilmu dengan cara menulisnya”(Imam Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah).

                Lalu jika hanya membaca menulis, kapan kita berbicara dan mendengarkan ?
“berbicara yang baik atau lebih baik diam”, tau kutipan itu. Rasanya tak perlu di jelaskan panjang lebar. Semua orang di ajarkan untuk berbicara yang baik, karena ucapan (berbicara)  adalah doa.
Bagaimana Mendengar ? Aku akan jelaskan tentang mendengar setelah aku membaca,menulis dan berbicara yang baik. ^_^

Hanya manusia biasa, bukan orang baik yang ingin mejadi baik. Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihat apa yang di sampailkan.


Bersambung….. (Episode03)

Sunday, 12 June 2016

Awal Menjadi Diri Sendiri

Bissmillah,
Assalamualaikum,

Hidup ku di mulai dari lahir 28 februari 1996, tapi penulisan cerita ku  dimulai dari malam ini jam 20.12 tanggal 12 juni 2016 di kamar yang bisa di sebut kost. Kenapa aku menulis ini ?, karena aku ingin menjadi diri sendiri. Yaps diri sendiri karena motivasi orang lain di luar sana. Banyak orang sukses karena diri sendiri bukan menjadi orang lain. Kun anta, jadilah diri sendiri.

awal menjadi diri sendiri
HOW TO BE A MAN from foxdigitalstudio.com


                Bulan ini tepat bulan ramadhan 1437H, dan memasuki puasa ke -8. Hidupku sederhana, bisa di bilang menengah ke bawah atau sedikit ke atas. Aku tak tau harus memulai cerita dari mana, tapi yang jelas motivasi kali ini adalah jadi diri sendiri, biar lebih jelas aku kasih capslock, “JADI DIRI SENDIRI” . kita perlu menjadi diri sendiri agar tau potensi dan kemampuan yang kita miliki, jika kita seoarng pencontek , peniru, plagiasi, apa asiknya ?. tapi sedikit hal kita juga perlu belajar dari orang lain, tetapi bukan berarti kita meniru persis apa yang orang lain punya.

                Ada kutipan yang aku dapat dari facebook, “ menjadi diri sendiri itu penting, agar memiliki ketenang dan kedamaian diri dan jiwa. Tanpa itu, Seperti buih sabun dimana suatu saat akan pecah”.


                Bahkan untuk mengenal Islam, Seorang Muslim harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan “ Siapa Dirinya?, Dari mana dia berasal?, sedang berada dimana dia?, dan mau kemana arah tujuan hidupnya?”. Dari pertanyaan- pertanyaan tersebut silahkan Anda Jawab sendiri. Terima kasih semoga bermanfaat sedikit cerita tentang diri sendiri.

Bersambung..... (Episode02)

Saturday, 11 June 2016

Disclaimer for Katanya Dayat

Disclaimer for Katanya Dayat

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at 085272305662.

Disclaimers for katanya-dayat.blogspot.com:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. katanya-dayat.blogspot.com does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (katanya-dayat.blogspot.com), is strictly at your own risk. katanya-dayat.blogspot.com will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.
From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.
Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Monday, November 14th, 2016
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.


Friday, 10 June 2016

Privacy Policy for Katanya Dayat

Privacy Policy for Katanya Dayat

If you require any more information or have any questions about our privacy policy, please feel free to contact us by email at Privacy.
At katanya-dayat.blogspot.com we consider the privacy of our visitors to be extremely important. This privacy policy document describes in detail the types of personal information is collected and recorded by katanya-dayat.blogspot.com and how we use it.
Log Files
Like many other Web sites, katanya-dayat.blogspot.com makes use of log files. These files merely logs visitors to the site - usually a standard procedure for hosting companies and a part of hosting services's analytics. The information inside the log files includes internet protocol (IP) addresses, browser type, Internet Service Provider (ISP), date/time stamp, referring/exit pages, and possibly the number of clicks. This information is used to analyze trends, administer the site, track user's movement around the site, and gather demographic information. IP addresses, and other such information are not linked to any information that is personally identifiable.
Cookies and Web Beacons
katanya-dayat.blogspot.com uses cookies to store information about visitors' preferences, to record user-specific information on which pages the site visitor accesses or visits, and to personalize or customize our web page content based upon visitors' browser type or other information that the visitor sends via their browser.
DoubleClick DART Cookie
→ Google, as a third party vendor, uses cookies to serve ads on katanya-dayat.blogspot.com.
→ Google's use of the DART cookie enables it to serve ads to our site's visitors based upon their visit to katanya-dayat.blogspot.com and other sites on the Internet.
→ Users may opt out of the use of the DART cookie by visiting the Google ad and content network privacy policy at the following URL - http://www.google.com/privacy_ads.html
Our Advertising Partners
Some of our advertising partners may use cookies and web beacons on our site. Our advertising partners include .......

    While each of these advertising partners has their own Privacy Policy for their site, an updated and hyperlinked resource is maintained here: Privacy Policies.
    You may consult this listing to find the privacy policy for each of the advertising partners of katanya-dayat.blogspot.com.

    These third-party ad servers or ad networks use technology in their respective advertisements and links that appear on katanya-dayat.blogspot.com and which are sent directly to your browser. They automatically receive your IP address when this occurs. Other technologies (such as cookies, JavaScript, or Web Beacons) may also be used by our site's third-party ad networks to measure the effectiveness of their advertising campaigns and/or to personalize the advertising content that you see on the site.
    katanya-dayat.blogspot.com has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.

    Third Party Privacy Policies
    You should consult the respective privacy policies of these third-party ad servers for more detailed information on their practices as well as for instructions about how to opt-out of certain practices. katanya-dayat.blogspot.com's privacy policy does not apply to, and we cannot control the activities of, such other advertisers or web sites. You may find a comprehensive listing of these privacy policies and their links here: Privacy Policy Links.
    If you wish to disable cookies, you may do so through your individual browser options. More detailed information about cookie management with specific web browsers can be found at the browsers' respective websites. What Are Cookies?
    Children's Information
    We believe it is important to provide added protection for children online. We encourage parents and guardians to spend time online with their children to observe, participate in and/or monitor and guide their online activity. katanya-dayat.blogspot.com does not knowingly collect any personally identifiable information from children under the age of 13. If a parent or guardian believes that katanya-dayat.blogspot.com has in its database the personally-identifiable information of a child under the age of 13, please contact us immediately (using the contact in the first paragraph) and we will use our best efforts to promptly remove such information from our records.
    Online Privacy Policy Only
    This privacy policy applies only to our online activities and is valid for visitors to our website and regarding information shared and/or collected there. This policy does not apply to any information collected offline or via channels other than this website.
    Consent
    By using our website, you hereby consent to our privacy policy and agree to its terms.


    Update
    This Privacy Policy was last updated on: Monday, November 14th, 2016. Privacy Policy Online Approved Site
    Should we update, amend or make any changes to our privacy policy, those changes will be posted here.

    Terms of Service for Katanya Dayat

    Terms of Service for Katanya Dayat

    If you require any more information or have any questions about our Terms of Service, please feel free to contact us by email at Contact Us.

    Introduction

    These terms and conditions govern your use of this website; by using this website, you accept these terms and conditions in full and without reservation. If you disagree with these terms and conditions or any part of these terms and conditions, you must not use this website.
    You must be at least 18 [eighteen] years of age to use this website. By using this website and by agreeing to these terms and conditions, you warrant and represent that you are at least 18 years of age.

    License to use website

    Unless otherwise stated, katanya-dayat.blogspot.com and/or its licensors own the intellectual property rights published on this website and materials used on katanya-dayat.blogspot.com. Subject to the license below, all these intellectual property rights are reserved.
    You may view, download for caching purposes only, and print pages, files or other content from the website for your own personal use, subject to the restrictions set out below and elsewhere in these terms and conditions.
    You must not:
    • republish material from this website in neither print nor digital media or documents (including republication on another website);
    • sell, rent or sub-license material from the website;
    • show any material from the website in public;
    • reproduce, duplicate, copy or otherwise exploit material on this website for a commercial purpose;
    • edit or otherwise modify any material on the website;
    • redistribute material from this website - except for content specifically and expressly made available for redistribution; or
    • republish or reproduce any part of this website through the use of iframes or screenscrapers.
    Where content is specifically made available for redistribution, it may only be redistributed within your organisation.

    Acceptable use

    You must not use this website in any way that causes, or may cause, damage to the website or impairment of the availability or accessibility of katanya-dayat.blogspot.com or in any way which is unlawful, illegal, fraudulent or harmful, or in connection with any unlawful, illegal, fraudulent or harmful purpose or activity.
    You must not use this website to copy, store, host, transmit, send, use, publish or distribute any material which consists of (or is linked to) any spyware, computer virus, Trojan horse, worm, keystroke logger, rootkit or other malicious computer software.
    You must not conduct any systematic or automated data collection activities on or in relation to this website without katanya-dayat.blogspot.com's express written consent.
    This includes:
    • scraping
    • data mining
    • data extraction
    • data harvesting
    • 'framing' (iframes)
    • Article 'Spinning'

    You must not use this website or any part of it to transmit or send unsolicited commercial communications.
    You must not use this website for any purposes related to marketing without the express written consent of katanya-dayat.blogspot.com.

    Restricted access

    Access to certain areas of this website is restricted. katanya-dayat.blogspot.com reserves the right to restrict access to certain areas of this website, or at our discretion, this entire website. katanya-dayat.blogspot.com may change or modify this policy without notice.
    If katanya-dayat.blogspot.com provides you with a user ID and password to enable you to access restricted areas of this website or other content or services, you must ensure that the user ID and password are kept confidential. You alone are responsible for your password and user ID security..
    katanya-dayat.blogspot.com may disable your user ID and password at katanya-dayat.blogspot.com's sole discretion without notice or explanation.

    User content

    In these terms and conditions, “your user content” means material (including without limitation text, images, audio material, video material and audio-visual material) that you submit to this website, for whatever purpose.
    You grant to katanya-dayat.blogspot.com a worldwide, irrevocable, non-exclusive, royalty-free license to use, reproduce, adapt, publish, translate and distribute your user content in any existing or future media. You also grant to katanya-dayat.blogspot.com the right to sub-license these rights, and the right to bring an action for infringement of these rights.
    Your user content must not be illegal or unlawful, must not infringe any third party's legal rights, and must not be capable of giving rise to legal action whether against you or katanya-dayat.blogspot.com or a third party (in each case under any applicable law).
    You must not submit any user content to the website that is or has ever been the subject of any threatened or actual legal proceedings or other similar complaint.
    katanya-dayat.blogspot.com reserves the right to edit or remove any material submitted to this website, or stored on the servers of katanya-dayat.blogspot.com, or hosted or published upon this website.
    katanya-dayat.blogspot.com's rights under these terms and conditions in relation to user content, katanya-dayat.blogspot.com does not undertake to monitor the submission of such content to, or the publication of such content on, this website.

    No warranties

    This website is provided “as is” without any representations or warranties, express or implied. katanya-dayat.blogspot.com makes no representations or warranties in relation to this website or the information and materials provided on this website.
    Without prejudice to the generality of the foregoing paragraph, katanya-dayat.blogspot.com does not warrant that:
    • this website will be constantly available, or available at all; or
    • the information on this website is complete, true, accurate or non-misleading.
    Nothing on this website constitutes, or is meant to constitute, advice of any kind. If you require advice in relation to any legal, financial or medical matter you should consult an appropriate professional.

    Limitations of liability

    katanya-dayat.blogspot.com will not be liable to you (whether under the law of contact, the law of torts or otherwise) in relation to the contents of, or use of, or otherwise in connection with, this website:
    • to the extent that the website is provided free-of-charge, for any direct loss;
    • for any indirect, special or consequential loss; or
    • for any business losses, loss of revenue, income, profits or anticipated savings, loss of contracts or business relationships, loss of reputation or goodwill, or loss or corruption of information or data.
    These limitations of liability apply even if katanya-dayat.blogspot.com has been expressly advised of the potential loss.

    Exceptions

    Nothing in this website disclaimer will exclude or limit any warranty implied by law that it would be unlawful to exclude or limit; and nothing in this website disclaimer will exclude or limit the liability of Katanya Dayat in respect of any:
    • death or personal injury caused by the negligence of katanya-dayat.blogspot.com or its agents, employees or shareholders/owners;
    • fraud or fraudulent misrepresentation on the part of katanya-dayat.blogspot.com; or
    • matter which it would be illegal or unlawful for katanya-dayat.blogspot.com to exclude or limit, or to attempt or purport to exclude or limit, its liability.

    Reasonableness

    By using this website, you agree that the exclusions and limitations of liability set out in this website disclaimer are reasonable.
    If you do not think they are reasonable, you must not use this website.

    Other parties

    You accept that, as a limited liability entity, katanya-dayat.blogspot.com has an interest in limiting the personal liability of its officers and employees. You agree that you will not bring any claim personally against katanya-dayat.blogspot.com's officers or employees in respect of any losses you suffer in connection with the website.
    Without prejudice to the foregoing paragraph, you agree that the limitations of warranties and liability set out in this website disclaimer will protect katanya-dayat.blogspot.com's officers, employees, agents, subsidiaries, successors, assigns and sub-contractors as well as katanya-dayat.blogspot.com.

    Unenforceable provisions

    If any provision of this website disclaimer is, or is found to be, unenforceable under applicable law, that will not affect the enforceability of the other provisions of this website disclaimer.

    Indemnity

    You hereby indemnify katanya-dayat.blogspot.com and undertake to keep katanya-dayat.blogspot.com indemnified against any losses, damages, costs, liabilities and expenses (including without limitation legal expenses and any amounts paid by katanya-dayat.blogspot.com to a third party in settlement of a claim or dispute on the advice of katanya-dayat.blogspot.com's legal advisers) incurred or suffered by katanya-dayat.blogspot.com arising out of any breach by you of any provision of these terms and conditions, or arising out of any claim that you have breached any provision of these terms and conditions.

    Breaches of these terms and conditions

    Without prejudice to katanya-dayat.blogspot.com's other rights under these terms and conditions, if you breach these terms and conditions in any way, katanya-dayat.blogspot.com may take such action as katanya-dayat.blogspot.com deems appropriate to deal with the breach, including suspending your access to the website, prohibiting you from accessing the website, blocking computers using your IP address from accessing the website, contacting your internet service provider to request that they block your access to the website and/or bringing court proceedings against you.

    Variation

    katanya-dayat.blogspot.com may revise these terms and conditions from time-to-time. Revised terms and conditions will apply to the use of this website from the date of the publication of the revised terms and conditions on this website. Please check this page regularly to ensure you are familiar with the current version.

    Assignment

    katanya-dayat.blogspot.com may transfer, sub-contract or otherwise deal with katanya-dayat.blogspot.com's rights and/or obligations under these terms and conditions without notifying you or obtaining your consent.
    You may not transfer, sub-contract or otherwise deal with your rights and/or obligations under these terms and conditions.

    Severability

    If a provision of these terms and conditions is determined by any court or other competent authority to be unlawful and/or unenforceable, the other provisions will continue in effect. If any unlawful and/or unenforceable provision would be lawful or enforceable if part of it were deleted, that part will be deemed to be deleted, and the rest of the provision will continue in effect.

    Entire agreement

    These terms and conditions, together with katanya-dayat.blogspot.com's Privacy Policy constitute the entire agreement between you and katanya-dayat.blogspot.com in relation to your use of this website, and supersede all previous agreements in respect of your use of this website.

    Law and jurisdiction

    These terms and conditions will be governed by and construed in accordance with the laws of NEVADA, USA, and any disputes relating to these terms and conditions will be subject to the exclusive jurisdiction of the courts of NEVADA, USA.

    About these website Terms of Service

    We created these website terms and conditions using the TOS/T&C generator available from Privacy Policy Online.

    katanya-dayat.blogspot.com's details

    The full name of katanya-dayat.blogspot.com is Katanya Dayat.
    Privacy Policy Online Approved Site You can contact katanya-dayat.blogspot.com by email at our email address link at the top of this Terms of Service document.

    Thursday, 9 June 2016

    Powered by Blogger.